Langsung ke konten utama

Lomba Penyuluh Agama Hindu Non PNS Tahun 2018



Memahami Agama pada dasarnya dimulai dengan adanya keyakinan. Keyakinan ini diperoleh dengan jalan mempelajari ajaran agama, menyelami isinya, dan diamalkan dalam pikiran, perkataan, maupun tindakan. Esensinya, Agama baru akan berfungsi dengan baik apabila dipelajari dan dilaksanakan dengan seimbang. Sejalan dengan hal tersebut, menjadi seorang Penyuluh Agama Hindu merupakan sebuah kebanggaan tersendiri bagi seseorang. Namun, menjadi Penyuluh Agama Hindu bukanlah hal yang mudah, karena memerlukan integritas dan pemahaman yang holistik perihal teori tentang agama Hindu serta aplikasinya di dalam masyarakat. Untuk mewujudkan Profesionalitas Penyuluh Agama Hindu, 
Kementerian Agama Kabupaten Klungkung melalui Seksi Ura Hindu secara totalitas merealisasikan hal tersebut melalui diadakannya Pemilihan Penyuluh Agama Hindu Non PNS Berprestasi Tahun 2018 dengan tema “Melalui Lomba Penyuluh Non PNS Tahun 2018 Kita Tingkatkan Sumber Daya Penyuluh Agama Hindu Nom PNS Dalam Pelaksanaan Tugas dan Fungsi Pembinaan Umat Hindu"  pada tanggal 26 Juni 2018, bertempat di Aula Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung. Peserta yang mengikuti lomba tersebut berjumlah 21 orang yang berasal dari para Penyuluh Agama Hindu Non PNS yang ada di empat kecamatan di wilayah Kabupaten Klungkung. 






Acara tersebut dibuka langsung oleh Kepala Kantor Kementerian Agama Kabupaten Klungkung, IB. Made Oka Yusa Manuaba, S.Ag.,M.Pd.H. Dalam arahannya, beliau menegaskan bahwa Penyuluh Agama Hindu Non PNS  sebagai salah satu ujung tombak Kementerian Agama Kaupaten Klungkung dibidang pembinaan umat harus memiliki jiwa jengah untuk terus mengisi diri dengan pengalaman dan ilmu pengetahuan Agama. Acara lomba ini merupakan momentum penting untuk mengasah potensi diri dan untuk mengetahui sejauh mana kemampuan yang dimiliki. Menjadi seorang Penyuluh tidak cukup hanya pintar, melainkan harus banyak memiliki strategi dalam membina umat, baik dalam aspek Dharma Wacana, Dharma Gita, Dharma Tula, Dharma Sadhana, Dharma Yatra, maupun Dharma Santhi bisa memberikan siar agama. Mari kita sukseskan acara ini dengan semangat yang tinggi agar nantinya bisa menghasilkan juara yang benar-benar bisa menjadi tauladan sekaligus mampu memotivasi Penyuluh Agama Hindu yang lain agar semakin giat mengisi diri demi Kemajuan Instansi Kementerian Agama Kabupaten Klungkung kedepan. Dewan Juri dalam lomba tersebut berasal dari unsur internal Kantor Kemenag Kab. Klungkung, yakni. Kriteria lomba tersebut menitikberatkan pada kemampuan peserta dalam hal praktek Puja Tri Sandhya dan Dharma Wacana. 



Setelah melalui proses penilaian yang cukup ketat, akhirnya diputuskan yang menjadi Juara 1 adalah I Ketut Dira, Juara 2 adalah I Komang Merta dan juara 3 adalah Luh Ayu Moramowati. Kegiatan ini pada dasarnya bertujuan untuk meningkatkan profesionalitas serta prestasi kerja Penyuluh Agama Hindu secara teori maupun praktek, agar kedepannya lebih mantap dalam mendampingi serta membimbing umat.x

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Perjalanan Diri

 Perjalanan menuju Harmonisasi Diri  1. #SUGIHAN_TENTEN #Buda_Pon_Sungsang ,.Disebut Sugihan Tenten karena merupakan hari Ngentenin atau  Memperingatkan, mengingatkan umat manusia bahwa sebelum Kemenangan Dharma tiba, Sang Bhuta Tiga akan hadir untuk menggoda umat manusia. 2. #SUGIHAN_JAWA   #Wrahaspati_Wage_Sungsang disebut SUGIHAN JAWA berasal dari dua kata ;      SUGI  memiliki arti bersih, suci.      JAWA ( Jaba ) yang artinya luar.  Sugihan Jawa adalah hari sebagai Pabersihan /Penyucian segala sesuatu yang berada di luar diri manusia (Bhuana Agung).  Pada hari ini melaksanakan upacara yang disebut #Mererebu atau #Mererebon. Upacara Ngerebon ini dilaksanakan dengan tujuan untuk Nyomia / menetralisir segala sesuatu yang Negatif yang berada pada Bhuana Agung disimbolkan dengan pembersihan Sanggah /Merajan, dan Rumah.  3. #SUGIHAN_BALI #Sukra_Kliwon_Sungsang disebut Sugihan Bali memiliki makna yaitu penyucian/pembers...

NAMA - NAMA BINATANG DALAM BAHASA BALI

Adan-adan buron 1.    Panak Jaran madan bebedag 2.    Panak kambing madan wiwi 3.    Panak meng madan tai 4.    Panak bojog madan apa 5.    Panak sampi madan godel 6.    Panak bebek madan memeri 7.    Panak siap madan pitik 8.    Panak bikul madan nyingnying 9.    Panak bangkung madan kucit 10.    Panak cicing madan kuluk/konyong 11.    Panak kakul madan picipici 12.    Panak penyu madan tukik 13.    Inan lindung madan kodes 14.    Panak capung madan blauk 15.    Celeng ane kaliwat wayah kanti pesu caling madan bangkal 16.    Inan pitike madan pangina 17.    siap ane muani suba wayah madan manuk 18.    yuyu di pasihe madan cangking 19.    kakul di pasihe madan omang-omang 20. Pa nak Maca...

NAMA - NAMA BHUTA KALA

Menurut Lontar Siwa Gama, kata Bhuta berasal dari suku “BHU” yang berarti menjadi, ada, gelap, berbentuk, mahluk. Kemudian berkembang menjadi “BHUTA” yang artinya telah diwujudkan. Sedangkan untuk kata “KALA”, berarti energi, waktu. Sehingga kata BHUTA KALA artinya adalah energi yang timbul dan mengakibatkan kegelapan. Bhuta Kala sering diwujudkan dalam bentuk iblis dengan rupa menyeramkan . Dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan, disebutkan nama-nama Bhuta Kala yang diciptakan dari yoga Bhatari Durga yang menghuni seluruh tempat, antara lain : . - Singha Kala di tanah - Kala Wisesa di langit - Bhuta Lamis di batu - Wisnu Pujut di malam hari - Bangbang Pita di siang hari - Kala Nundang di jalan - DoraKala di pintu gerbang - Hyang Maraja di halaman - Bhuta suci di sanggar - Bhuta Sayah di Bale agung - Kala Graha di Kuburan - Bhuta Ngadang di persimpangan jalan - Kala Dungkang di bebaturan - Bhuta Duleg di bawah tempat tidur - Bhuta Ndelik di bilah-bilah bambu galaran - Bh...