Pasraman Pemangku lan Sarati di Desa Pikat
Poin utama menjadi seorang murid adalah belajar. Dan harapan setiap guru adalah melihat para muridnya belajar untuk berdiri di atas kedua kaki mereka sendiri, dan terbebaskan dari keyakinan-keyakinan dan perilaku-perilaku terkondisi mereka. Semakin kurang kita bertindak berdasarkan agenda-agenda kita, khususnya ketergantungan kita pada otoritas, semakin kita bisa menjadi diri kita yang sebenarnya. Dari situ kita bisa hidup mengembangkan kebaikan yang merupakan jalan sejati kita.
Hubungan guru dan murid adalah untuk belajar menghadapi kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dihindari yang akan muncul dalam hubungan tersebut. Yang paling sering, kesulitan-kesulitan ini adalah hasil dari saringan murid, termasuk semua harapan dan asumsi tentang apa yang seharusnya berlangsung dalam hubungan guru dan murid.
Lebih lanjut, setiap murid, betapapun dewasanya, akan selalu membawa egonya ke dalam hubungan guru dan murid, baik melalui masalah-masalah kepercayaan, perlunya tunduk atau melawan terhadap otoritas, butuh untuk disukai atau dimengerti. Apapun strategi ego kita itu, tidak diragukan lagi itu akan memainkan dirinya sendiri dalam hubungan guru dan murid dengan cara yang sama, seperti hubungan lainnya. Sebagai contoh, bila kita mempunyai reaksi emosional atas situasi yang sulit dengan guru tersebut, apakah kita selayaknya marah dan berpikir kita perlu menyuarakan pikiran kita?. Apakah kita mundur atau merasa putus asa? atau kita menjadi mati rasa?. Penting untuk mengetahui pola kita sendiri. Dan penting bahwa kita mengerti apa yang harus dilatih dalam situasi-situasi seperti ini.
Pertama dan terpenting, kita harus melihat dengan jelas dan jujur apa yang kita lakukan. Kita mungkin menekan nilai-nilai subjektif kita sendiri. Kita mungkin bereaksi berdasarkan hal yang tidak kita ketahui atau harapan yang tersembunyi. dimana kita mengulangi pola-pola yang ada dalam hubungan-hubungan sebelumnya.
Poin utama menjadi seorang murid adalah belajar. Dan harapan setiap guru adalah melihat para muridnya belajar untuk berdiri di atas kedua kaki mereka sendiri, dan terbebaskan dari keyakinan-keyakinan dan perilaku-perilaku terkondisi mereka. Semakin kurang kita bertindak berdasarkan agenda-agenda kita, khususnya ketergantungan kita pada otoritas, semakin kita bisa menjadi diri kita yang sebenarnya. Dari situ kita bisa hidup mengembangkan kebaikan yang merupakan jalan sejati kita.
Hubungan guru dan murid adalah untuk belajar menghadapi kesulitan-kesulitan yang tidak dapat dihindari yang akan muncul dalam hubungan tersebut. Yang paling sering, kesulitan-kesulitan ini adalah hasil dari saringan murid, termasuk semua harapan dan asumsi tentang apa yang seharusnya berlangsung dalam hubungan guru dan murid.
Lebih lanjut, setiap murid, betapapun dewasanya, akan selalu membawa egonya ke dalam hubungan guru dan murid, baik melalui masalah-masalah kepercayaan, perlunya tunduk atau melawan terhadap otoritas, butuh untuk disukai atau dimengerti. Apapun strategi ego kita itu, tidak diragukan lagi itu akan memainkan dirinya sendiri dalam hubungan guru dan murid dengan cara yang sama, seperti hubungan lainnya. Sebagai contoh, bila kita mempunyai reaksi emosional atas situasi yang sulit dengan guru tersebut, apakah kita selayaknya marah dan berpikir kita perlu menyuarakan pikiran kita?. Apakah kita mundur atau merasa putus asa? atau kita menjadi mati rasa?. Penting untuk mengetahui pola kita sendiri. Dan penting bahwa kita mengerti apa yang harus dilatih dalam situasi-situasi seperti ini.
Pertama dan terpenting, kita harus melihat dengan jelas dan jujur apa yang kita lakukan. Kita mungkin menekan nilai-nilai subjektif kita sendiri. Kita mungkin bereaksi berdasarkan hal yang tidak kita ketahui atau harapan yang tersembunyi. dimana kita mengulangi pola-pola yang ada dalam hubungan-hubungan sebelumnya.



Komentar
Posting Komentar