Langsung ke konten utama

Hari Raya Pagerwesi

 KISAH DARI PAGAR GAIB LAKSMANA

Setelah gagal merayu pria tampan yang ditemuinya di hutan belantara Dandaka, Sarpakanaka dengan tangisan yang dibuat2 menemui kakaknya, Rahwana, di balairung istana Alengka.


Cintanya kini berubah mjd benci, ia ingin kakaknya yg sakti mandraguna itu mewakili dirinya memberikan rasa sakit pada Laksmana, pria yang menolaknya dengan kasar. Mata bathin pria tampan itu mampu menembus penyamarannya meski ia telah mengubah wujudnya menjadi wanita cantik.
Maka Sarpakanakapun bercerita kpd kakaknya bahwa di hutan Dandaka ada seorang wanita yg kecantikannya mengalahkan bidadari sorga. Sarpakanaka tahu, penggambaran kecantikan spt itu tak akan mampu ditahan oleh kakaknya. Dan benar saja, Rahwana bergegas, ditemani ajudannya, Marica.
Sesampainya di hutan Dandaka, Rahwana takjub menyaksikan 3 manusia yang hidup seadanya namun tampak sangat bahagia. 3 manusia itu adalah Rama, istrinya Sita, dan adiknya Laksmana. Mereka meninggalkan Ayodya untuk memenuhi janji Ayahnya kepada ibu tirinya, Dewi Kekayi.
Rahwana terguncang menyaksikan kecantikan Sita yang keharuman tubuhnya sampai ke tempatnya bersembunyi. Maka Rahwanapun memutuskan untuk menculik dan membawa wanita itu ke istana Alengka. Sungguh tak pantas wanita secantik itu hidup di hutan belantara, pikirnya.
Di istana Alengka, ia bisa memberi semua kemewahan, tentu saja dengan menjadikannya istri. "Kau menyamarlah menjadi menjangan berbulu emas, dekati wanita itu dan buatlah hatinya terpikat. Buatlah wanita itu terpisah dari 2 laki2 yang menjaganya itu" kata Rahwana kepada Marica.
Sita, putri Raja Janaka dari kerajaan Mantili yang kini menjadi permaisuri Rama, putra mahkota kerajaan Ayodya, tergoda melihat menjangan berbulu emas yang seakan jinak tapi tak kunjung bisa dipegangnya. "Suamiku Rama, tangkaplah menjangan itu untukku.
Aku ingin memeliharanya, penghibur diriku ditengah hutan sepi ini" katanya. Rama, yg bisa memahami rasa kesepian istrinya, melompat mencoba menangkap menjangan yang nampak jinak itu. Tapi ternyata tidak mudah. Menjangan itu seakan menggodanya, terus berlarian, berhenti sejenak..
..lalu berlari kecil lagi, hingga tak terasa Rama sdh meninggalkan Sita cukup jauh. Ia curiga, menjangan ini tdk spt hewan biasa. Maka ia melepaskan satu anak panah saktinya, untuk menguji kecurigaannya. Dan benar saja, menjangan itu roboh, berubah wujud menjadi seorang raksasa.
Raksasa itu, yang tak lain adalah Marica, hendak menghembuskan nafas terakhir, namun masih sempat berteriak "Laksmana... laksmana... tolong aku.. tolong aku...". Rama tertegun, ia tahu ada skenario jahat sedang dilakukan, entah oleh siapa, entah dengan tujuan apa.
Ia berlari kencang menuju arah Sita dan Laksmana, dengan perasaan khawatir.

Di lain tempat, Sita dan Laksmana mendengar teriakan minta tolong itu. Tapi Laksmana tampak tenang, hanya lebih waspada. "Laksmana, kau dengar teriakan kakakmu ? Pergilah, bantu dia" kata Sita.
"Kakakku Sita, tdk ada yang mampu mencelakai Rama, bahkan di ke 3 dunia. Tenangkan hatimu, Rama akan segera kembali". Tp Sita terus mendesak, Sita menangis, bahkan di ujung tangisannya Sita menyindir Laksmana "Mungkin kau ingin kakakmu mati, agar kau bisa memiliki aku" katanya.
Wanita yg sedang menangis memang seringkali kehilangan kendali atas kata2nya. Laksmana tertegun, bagaimanapun ia terluka oleh tuduhan kakak iparnya. Maka ia mencabut 1 panahnya "baiklah kakakku. Atas nama kesucian hatiku yg kau tuduh, aku akan membuat lingkaran dgn panahku ini.
Diamlah dlm lingkaran ini, jgn sekali2 keluar. Aku akan menjemput Rama sesuai kehendakmu, & lingkaran ini akan menggantikanku utk menjagamu". Laksmana menggoreskan ujung panahnya membentuk lingkaran yang mengelilingi Sita, lalu pergi ke arah teriakan minta tolong yg didengarnya.
Sita kini sendiri. Ia menyesali kata2nya pada adik iparnya yang berhati suci. Ditengah kegalauannya itu, tiba2, seorang tua renta mendekatinya, namun orang tua itu serta merta terpental ketika akan melangkahi lingkaran gaib yang dibuat oleh Laksmana.
Sita terkejut, tapi ia kini merasa aman. Lingkaran itu terbukti kekuatannya. "Hai putri jelita, aku seorang pertapa yang sedang kelaparan. Sudilah kiranya engkau memberiku sedikit buah atau apapun yang bisa kumakan". Didorong oleh rasa iba, Sita mengambil sebiji buah..
..dan mengulurkan tangannya kearah laki2 tua yang nampak tak berdaya itu. Saat itulah tangannya menjulur keluar melewati garis lingkaran gaib yang dibuat oleh Laksmana. Dan, laki2 tua itu segera menangkap dan menarik tangan halus Sita dengan sangat kuat.
Laki2 itu berubah wujud menjadi raksasa sakti. Dia adalah Rahwana yang menyamar, kini ia menyeringai puas dengan mendekap Sita kuat2 dalam pelukannya, lalu berlari sekencang angin ke istana Alengka.
Sita menangis, berteriak, tp tak berguna. Sita celaka krn ia keluar dari pagar gaib yg dibuat dgn kekuatan hati suci Laksmana.

***

Di dunia material ini, kita kerapkali terguncang oleh berbagai godaan. Godaan itu bisa berwujud kesenangan, kenikmatan, kekuasaan dan banyak lagi.
Menjangan berbulu emas yg menggoda Sita itu bisa mewujud dalam banyak hal. Karena itu kitab2 suci telah mengingatkan kita, bahwa kita perlu membuat "pagar" yang membentengi diri dari godaan2 itu. Pagar itu, yang dalam itihasa Ramayana dilambangkan dengan lingkaran gaib Laksmana..
.. tercipta dari ketulusan hati yang berpadu dengan kekuatan pengetahuan. Hati yang bersih, niat yang suci, yang dipatrikan melalui ujung panah pengetahuan, adalah pagar yang melindungi kita dari berbagai godaan duniawi.
Pagar itu bisa lemah, rusak krn keserakahan, fitnah, kebencian, keragu2an ataupun krn rasa iba tanpa pengetahuan. Krn itu, setelah merayakan Saraswati sbg penghormatan pd ilmu pengetahuan, kini kita merayakan Pagerwesi, membangun pagar diri agar tdk terjerumus oleh godaan2 itu.
Semoga kita semua mampu membuat "pagar gaib" untuk diri kita masing2, agar terhindar dari marabahaya godaan dunia, yang menyimpang dari Dharma.



Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAMA - NAMA BINATANG DALAM BAHASA BALI

Adan-adan buron 1.    Panak Jaran madan bebedag 2.    Panak kambing madan wiwi 3.    Panak meng madan tai 4.    Panak bojog madan apa 5.    Panak sampi madan godel 6.    Panak bebek madan memeri 7.    Panak siap madan pitik 8.    Panak bikul madan nyingnying 9.    Panak bangkung madan kucit 10.    Panak cicing madan kuluk/konyong 11.    Panak kakul madan picipici 12.    Panak penyu madan tukik 13.    Inan lindung madan kodes 14.    Panak capung madan blauk 15.    Celeng ane kaliwat wayah kanti pesu caling madan bangkal 16.    Inan pitike madan pangina 17.    siap ane muani suba wayah madan manuk 18.    yuyu di pasihe madan cangking 19.    kakul di pasihe madan omang-omang 20. Pa nak Maca...

API KUNDALINI

API KUNDALINI, BHAIRAWI DAN BHAIRAWA Jika kita telaah secara hati-hati dengan berpegang pada teks-teks Tantra tradisional [bukan hasil interpretasinya] lalu membandingkan ajaran soal Kundalini ini dengan banyak metodelogi Yoga di Bali, kita akan tercengang dengan betapa kayanya tradisi spiritual Bali dengan teknik yoga. Tapi mari kita bahas satu persatu. Malam ini adalah malam Bulan Penuh. Bulan dalam bahasa Kawinya adalah "Chandra",  dan berkaitan dengan "Soma" yang juga dideskripsikan sebagai "Amrta". Kata Chandra mengingatkan pada judul teks lontar, "Chandra Bhairawa", sementara Soma mengingatkan pada "Kakawin Sutasoma", Sang Pangeran Rembulan yang menerima anugerah Durga-Bhairawi. Sedangkan kata Amrta juga sering disebut-sebut dalam lontar, lengkapnya "Amrta Kundalini", yang artinya "amreta yg muncul dari pengolahan api". Apa itu Kundalini? Kundalini adalah "api", soal bagaimana membangkitkan ...

Bendesa Adat Sudaji Mengapresiasi Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa

 Bendesa adat Sudaji, Mengapresiasi Keberadaan Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa.  Singaraja, Yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa memberikan Dharma Shanti sekaligus Dharma Tula Suksmaning Kepemangkuan, Uperengga Upacara Yadnya di Desa Adat Sudaji, Kecamatan Sawan Kabupaten Buleleng kota Singaraja pada hari Minggu, (2/4/2023) pagi. Ida Pandita Dukuh Celagi Daksa Dharma Kirti selaku pembina yayasan didampingi Ketua yayasan Padukuhan Sri Chandra Bhaerawa Ir.Jero Mangku Ketut Suryadi menjelaskan, bahwa tujuan dari Yadnya adalah untuk mencapai kebahagiaan baik lahir maupun bathin.  Sebelum beliau melanjutkan, bahwa di dalam ajaran Kabodan ada 3 bentuk rambut yang di muliakan yakni  1. Magotro : angaras bahu 2. Amondi. : Megundul / maplontos  3. Angore    : Megambahan  Sesuai dengan perintah Ida Nabe, beliau ( Ida Dukuh Celagi) ngagem Angore (Megambahan).  Pada dasarnya seorang pemangku itu adalah seorang pelayan umat, demikian juga Seorang...