Langsung ke konten utama

Postingan

Menampilkan postingan dari Januari, 2020

NAMA - NAMA BHUTA KALA

Menurut Lontar Siwa Gama, kata Bhuta berasal dari suku “BHU” yang berarti menjadi, ada, gelap, berbentuk, mahluk. Kemudian berkembang menjadi “BHUTA” yang artinya telah diwujudkan. Sedangkan untuk kata “KALA”, berarti energi, waktu. Sehingga kata BHUTA KALA artinya adalah energi yang timbul dan mengakibatkan kegelapan. Bhuta Kala sering diwujudkan dalam bentuk iblis dengan rupa menyeramkan . Dalam Lontar Purwa Bhumi Kemulan, disebutkan nama-nama Bhuta Kala yang diciptakan dari yoga Bhatari Durga yang menghuni seluruh tempat, antara lain : . - Singha Kala di tanah - Kala Wisesa di langit - Bhuta Lamis di batu - Wisnu Pujut di malam hari - Bangbang Pita di siang hari - Kala Nundang di jalan - DoraKala di pintu gerbang - Hyang Maraja di halaman - Bhuta suci di sanggar - Bhuta Sayah di Bale agung - Kala Graha di Kuburan - Bhuta Ngadang di persimpangan jalan - Kala Dungkang di bebaturan - Bhuta Duleg di bawah tempat tidur - Bhuta Ndelik di bilah-bilah bambu galaran - Bh...

TEMBANG RARE "MADE CERIK"

TEMBANG RARE MENGGELITIK* *1*. _Made Cenik lilig montor ibi sanja_. *Artinya*: Pulau Bali yg kecil sudah di lindas medernisasi entah di bidang pariwisata teknologi ataupun budaya asing. *2*. _Montor Badung ke Gianyar_. *Artinya* : Arus parwisata yang paling banyak mungkin cuma daerah Badung sampai gianyar. *3*. _Gedebege muat Batu, Batu Cina_. *Artinya* : Kita sebagai penduduk lokal belum punya pasilitas modern atau SDM yg memadai utuk menggerakan perekonomian, sementara cina terus melaju menguasai seluruh sendi" ekonomi kt dan tak terelakan. *4*. _Bais lantang cunguh barak_. *Artinya* : Turis turis asing yang banyak berkunjung ke Bali./ Gangsaran tindak kita di permalukan. *5*. _Mangubar umbar i coder. I codet matetulupan_. *Artinya* : Sesama semeton kita saling jelek menjelekkan. Kembalilahlah ke jati diri. *6*. _Jangkak jongkok menyaruang nyongcong jangkrik._ *Artinya* : Sepertinya kita sibuk bekerja mendengar hingar bingar dunia pariwisata. Kelihatan bekerja tp...

MENGHITUNG DOSA

Di malam gelap  itu, udara dingin 'tumeluk'  jiwa lalu  menusuk tulang, seakan mencengkeram raga. Rasa ketakutan yang amat sangat menimpa hati sang Lubdaka, sosok pemburu, yang ganas, mencari mangsa di hutan rimba raya untuk logistik hidupnya.Namun keganasannya sirna, senjata yang dia bawa  tak membantu banyak,  karena  dia sudah berada di atas pohon karena  waktu telah gelap, seharian pergi berburu tak dapat apa-apa, nihil, hanya kelelahan yang hadir menjemput. Hutan  lebat malam hari menampilkan wajah seramnya, dan berisi beribu kemungkinan hipotesis, sebagai  dialektika diri yang sungguh menjadi  misteri. Satu misteri  hipotesis  masuk ke benak Lubdaka,  yakni   dia bisa  mati tersergap binatang buas saat tertidur pulas, itu alasannya dia, tak ingin mati sia-sia, Dia tak tidur di bawah pohon, dia pun naik pohon, dan duduk di dahan yang bidang, namun hatinya resah gelisah, dan was-was, jangan –jangan ...

Soroh di Bali Adalah Benteng dari serangan Misionaris

Sinampura ,sejarah pernah mencatat  rangkuman sejarah ini. Intinya semua org Bali itu sama, pernah jadi ksatria maupun brahmana pada jaman yang berbeda.pernah memimpin dan pernah di pimpin ,pernah juga jadi rakyat karena kekuasaannya sudah tdk  ada di tangan* Pulau Bali sejak abad ke 8 sekitar tahun 804 Caka atau tahun 882 Masehi, dibali ada kerajaan Bali kuno atau Bali Mula bernama Kerajaan Singha Mandhawa, letak kerajaan ini ada di Kuta Dalem Tegeh Kahuripan panarajon penulisan kintamani Bali, dan memiliki beberapa istana seiring situasi yaitu Puri Balingkang, Puri Tampurhyang, dan juga Puri Gwa Song. Para org tua org Bali dahulu menyebutnya dengan Kerajaan Mataum. Raja pertama bernama Cri Singha Mandhawa, dan Raja kedua bernama Cri Ugrasena Singha Mandhawa, Raja ketiga adalah seorang perempuan atau Ratu yg bergelar Cri Ratu Pingit, kemudian Raja yg keempat bernama Cri Agni Jaya Sindhi. Beliau yg bergelar Cri Agni Jaya Sindhi setelah melepas mahkota dan memberikan tang...

Keagungan Tulasi Devi Sristikanda

Keagungan Tulasi Devi  Sristikanda Kartikeya bertanya, Ayahku yang mulia, pohon apakah yang sanggup menimbulkan cinta-bhakti kepada Sri Krishna”?             Dewa Siva berkata, “Anakku sayang, dari semua pohon dan tanaman Tulasi Devi yang paling utama. Tulasi Devi adalah keberuntungan, pemenuh segala keinginan, murni seluruhnya, sangat bhakti kepada Sri Krishna dan penyembah besar.             Jaman dahulu, untuk kesejahteraan semua mahluk. Sri Krishna membawa Vrindadevi dalam wujud tanaman Tulasi Devi dan menanmnya di dunia material ini. Tulasi adalah intisari seluruh kegiatan bhakti. Tanpa daun Tulasi Devi, Sri Krishna tidak akan menerima bunga, buah, bahan makanan, bubuk cendana. Nyatanya, apapun yang tidak berisi daun Tulasi tidak akan dilirik oleh Sri Krishna.             Orang yang memuja Sri Krishna dengan daun Tulasi Devi setiap hari, akan mendapat pahala segala jenis tapabrata...