Langsung ke konten utama

Karma Phala

KARMA PHALA

Istrimu di kehidupan sekarang ini adalah berasal dari seseorang yg pernah kamu kubur di kehidupanmu di masa lalu. Saat ini dia terlahir sebagai istri adalah untuk membalas budimu.

Anak laki lakimu di kehidupan saat ini adalah berasal dari seseorang yg ada hutang piutang denganmu di masa lalu. Kini dia datang untuk menagih utangmu kepadanya atau pun dia datang utk membayar hutangnya kepadamu. Sementara anak perempuanmu saat ini adalah kekasihmu di kehidupan masa lalu. Kini dia datang untuk menyambung cinta kasih bersamamu.

Seseorang yang sangat kamu cintai saat ini adalah istrimu di kehidupan masa lalu. Kalian bertemu untuk menyambung kembali jodoh yg belum sempat selesai di kehidupan masa lalu walo terkadang saat kinipun dapat tak terwujud dan hanya mampu menikah secara hati bukan secarik kertas. Seorang yg menjadi sahabat karib/sahabat sejatimu saat ini adalah seseorang yg pernah menjadi saudara kandungmu di kehidupan masa lalu. Ataupun orang yg pernah kamu mengasihinya di masa lalu

Seseorang yg telah banyak membantumu saat sekarang adalah seseorang yg sangat baik kepadamu di masa lalu. kalian berjumpa utk menyambung kebajikan di masa lalu atau sebaliknya kamu yg berkorban untuknya di masa lalu. Ini semua bukanlah hanya sebuah kepercayaan tahyul akan tetapi semua ini adalah berasal dari hukum karma/hukum timbal balik/hukum tabur tuai.
Budha bersabda ; "Apabila tidak pernah ada saling berhutang piutang di kehidupan masa lalu. Maka pertemuan di kehidupan sekarang ini juga tidak akan pernah terjadi..."


Komentar

Postingan populer dari blog ini

NAMA - NAMA BINATANG DALAM BAHASA BALI

Adan-adan buron 1.    Panak Jaran madan bebedag 2.    Panak kambing madan wiwi 3.    Panak meng madan tai 4.    Panak bojog madan apa 5.    Panak sampi madan godel 6.    Panak bebek madan memeri 7.    Panak siap madan pitik 8.    Panak bikul madan nyingnying 9.    Panak bangkung madan kucit 10.    Panak cicing madan kuluk/konyong 11.    Panak kakul madan picipici 12.    Panak penyu madan tukik 13.    Inan lindung madan kodes 14.    Panak capung madan blauk 15.    Celeng ane kaliwat wayah kanti pesu caling madan bangkal 16.    Inan pitike madan pangina 17.    siap ane muani suba wayah madan manuk 18.    yuyu di pasihe madan cangking 19.    kakul di pasihe madan omang-omang 20. Pa nak Maca...

SEJARAH SEMAR DI NUSANTARA

*SEJARAH SEMAR DI NUSANTARA* Semar dalam Kitab Sudamala. Menurut Van Stein Callenfels dalam disertasinya sebagaimana dikutip oleh Mulyono, bahwa Kitab Sudamala dengan tegas telah menyebut nama Semar. Hal ini dapat dilihat pada penggalan bait ke-39 dari kitab tersebut. “PunSmar hamuwus mangke, hatarimengsun kakang matur ring sang mahadibya mangko, haglis ni Putut matura, ring sang maharesi mangke”. Artinya: “Kata-kata dari Putut berbunyi” Inilah Semar yang terhormat, yang diberikan oleh sang pertapa yang baik kepada anda. Sampaikanlah penghormatanku, terimakasihku kepada sang pertapa” (Mulyono, 1982:15-19). Berdasarkan kutipan tersebut bahwa tokoh Semar paling tidak telah ada sejak zaman Majapahit, yaitu abad ke-XV sebagaimana Kitab Sudamala tersebut ditulis. Namun demikian, perlu dikritisi lagi bahwa masih terdapat sumber lain yang tampaknya lebih tua dari Kitab Sudamala yang juga menampilkan nama tokoh Semar, yaitu Kitab Gatutkacasraya. Semar dalam Kitab Gatutkacasraya. ...

KAJANG DALAM UPACARA NGABEN

Kajang berasal dari bahasa kawi yang artinya penutup, atau kerudung. Kajang adalah salah satu piranti upacara Pengabenan. Kajang ini terbuat dari selembar kain putih dengan panjang kurang lebih satu setengah meter (3 hasta). Dalam lembaran kain tersebut ditulisi dengan gambar-gambar tertentu dan aksara-aksara modre yang memiliki nilai-nilai magis sebagai simbol kelepasan. Dalam membuat kajang ini, tidak sembarang orang boleh membuatnya, biasanya orang yang berhak membuat adalah Sang Sulinggih (dwijati) , orang yang ditunjuk/mendapat anugrah dari Sulinggih untuk nyurat kajang, atau pemangku kawitan. Cerita awal tentang kajang ini terdapat dalam Kakawin Bharatayudha, diceritakan dalam kakawin tersebut Dewi Hidimbi meminta sebuah kerudung kepada Dewi Drupadi untuk menutup diri dalam perjalanan yang panas untuk menemui nenek moyang (leluhur) agar tidak mendapat rintangan dalam perjalannya menuju Swarga. Dalam kisah ini tersirat nilai yang sangat mendalam tentang fungsi, dan makna penggun...